Rabu, 19 September 2012

TERAPI BERMAIN ANAK USIA SEKOLAH


PENDAHULUAN
         Bermain merupakan suatu aktivitas bagi anak yang menyenangkan dan merupakan suatu metode bagaimana mereka mengenal dunia. Bagi anak bermain tidak sekedar mengisi waktu, tetapi merupakan kebutuhan anak seperti halnya makanan, perawatan, cinta kasih dan lain-lain. Anak-anak memerlukan berbagai variasi permainan untuk kesehatan fisik, mentaldan perkembangan emosinya.
Dengan bermain anak dapat menstimulasi pertumbuhan otot-ototnya, kognitifnya dan juga emosinya karena mereka bermain dengan seluruh emosinya, perasaannya dan pikirannya. Elemen pokok dalam bermain adalah kesenangan dimana dengan kesenangan ini mereka mengenal segala sesuatu yang ada disekitarnya sehingga anak yang mendapat kesempatan cukup untuk bermain juga akan mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mengenal sekitarnya sehingga ia akan menjadi orang dewasa yang lebih mudah berteman, kreatif dan cerdas, bila dibandingkan dengan mereka yang masa kecilnya   kurang mendapat kesempatan bermain.
KEUNTUNGAN BERMAIN
Keuntungan-keuntungan yang didapat dari bermain, antara lain:
1.             Membuang ekstra energi.
2.             Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang, otot dan organ-organ.
3.             Aktivitas yang dilakukan dapat merangsang nafsu makan anak.
4.             Anak belajar mengontrol diri.
5.             Berkembanghnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang hidupnya.
6.             Meningkatnya daya kreativitas.
7.             Mendapat kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada disekitar anak.
8.             Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran, iri hati dan kedukaan.
9.             Kesempatan untuk bergaul dengan anak lainnya.
10.         Kesempatan untuk mengikuti aturan-aturan.
11.         Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya.




MACAM BERMAIN

1.      Bermain aktif
Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari apa yang diperbuat oleh mereka sendiri. Bermain aktif meliputi :
a.       Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)
Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan tersebut, memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium, meraba, menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar.
b.      Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumah-rumahan.
c.       Bermain drama (Dramatic Play)
Misal bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan teman-temannya.
d.      Bermain fisik
Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.

2.      Bermain pasif
Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan  mendengar. Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan membutuhkan sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya.
Contoh ; Melihat gambar di buku/majalah.,mendengar cerita atau musik,menonton televisi dsb.
Dalam kegiatan bermain kadang tidak dapat dicapai keseimbangan dalam bermain, yaitu apabila terdapat hal-hal seperti dibawah ini :
1.      Kesehatan anak menurun. Anak yang sakit tidak mempunyai energi untuk aktif bermain.
2.      Tidak ada variasi dari alat permainan.
3.      Tidak ada kesempatan belajar dari alat permainannya.
4.      Tidak mempunyai teman bermain.



ALAT PERMAINAN EDUKATIF (APE)
Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta berguna untuk :
1.       Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus.
Contoh alat bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dan didorong, tali, dll. Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.
2.       Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang benar.Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape, TV, dll.
3.        Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk. Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka, pensil warna, radio, dll.
4.       Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu dan anak, keluarga dan masyarakat
Contoh alat permainan : alat permainan yang dapat dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dll.

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN DALAM BERMAIN
1.      Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak.
2.      Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
3.      Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada keterampilan yang lebih majemuk.
4.      Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin  bermain.
5.      Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sedikit.

Delapan prinsip dasar dari pendekatan terapi bermain adalah sebagai berikut (Axline, 1974) :
1.      Terapis harus menciptakan suasana yang hangat, hubungan yang bersahabat dengan anak
2.      Terapis menerima anak sebagaimana adanya
3.      Terapis harus mengembangkan perasaan permisif dalam hubungan dengan anak
4.      Terapis harus waspada terhadapa perasaan anak yang diekspresikan dan direfleksikan kembali dalam bentuk tingkah laku
5.      Terapis diharapkan menghargai kemampuan anak dalam memecahkan masalahnya sendiri jika diberi kesempatan untuk melakukannya
6.      Terapis tidak diperkenankan langsung menegur perbuatan anak atau bercakap-cakap dengan cara apapun
7.      Terapis jangan cepat-cepat melakukan terapi
8.      Terapis hanya mengembangkan keterbatsan-keterbatasan yang diperlukan dalam menarik anak untuk terapi dan pada kenyataannya akan membuat anak sadar akan tanggung jawabanya dalam berhubungan dengan terapis

BENTUK- BENTUK PERMAINAN
            Materi atau bahan mainan harus dipilih atau diseleksi untuk memudahkan pelaksanaan terapi kepada anak. Mainan harus sederhana, mempunyai konstruksi yang kuat dan sehat, mudah bagi anak memanipulasi dan diperkuat dengan imajinasi. Ginott (1960) mengembangkan secara rasional dalam memilih mainan, mainan harus :
1.      Memudahkan dalam  mengembangkan kontak dengan anak
2.      Membangkitkan dan  mendorong katarsis
3.      Membantu mengembangkan insight
4.      Melengkapi dalam mengetes realita
5.      Sebagai media untuk terjadinya perubahan
Lima tahap dalam proses terapi bermain meliputi 5 terapi R :
1.      Relating (berhubungan) dengan terapis
2.      Releasing (melegakan) perasaan
3.      Re-creating (menciptakan kembali) kejadian-kejadian, pengalaman-pengalaman, hubungan-hubungan.
4.      Re-experiencing (mengalami kembali) perasaan dan pikiran yang kacau dengan suatu cara yang memudahkan pengertian baru
5.      Resolving (memecahkan) masalah an konflik dengan mempraktikkan tingkah laku baru dalam bermain.
Bentuk teknik-teknik terapi bermain melalui aktivitas menggambar, aktivitas membentuk dengan tanah liat, aktivitas bermain, aktivitas bercerita dan aktivitas menulis.


ASUHAN KEPERAWATAN HIDROSEFALUS


BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar belakang
Hydrocephalus telah dikenal sajak zaman Hipocrates,saat itu hydrocephalus dikenal sebagai penyebab penyakit ayan. Di saat ini dengan teknologi yang semakin berkembang maka mengakibatkan polusi didunia semakin meningkat pula yang pada akhirnya menjadi factor penyebab suatu penyakit, yang mana kehamilan merupakan keadaan yang sangat rentan terhadap penyakit yang dapat mempengaruhi janinnya, salah satunya adalah Hydrocephalus. Saat ini secara umum insidennya dapat dilaporkan sebesar tiga kasus per seribu kehamilan hidup menderita hydrocephalus. Dan hydrocephalus merupakan penyakit yang sangat memerlukan pelayanan keperawatanyangkhusus.
Hydrocephalus itu sendiri adalah akumulasi cairan serebro spinal dalam ventrikel serebral, ruang subaracnoid, ruang subdural (Suriadi dan Yuliani, 2001). Hydrocephalus dapat terjadi pada semua umur tetapi paling banyak pada bayi yang ditandai dengan membesarnya kepala melebihi ukuran normal. Meskipun banyak ditemukan pada bayi dan anak, sebenarnya hydrosephalus juga biasa terjadi pada oaran dewasa, hanya saja pada bayi gejala klinisnya tampak lebih jelas sehingga lebih mudah dideteksi dan diagnosis. Hal ini dikarenakan pada bayi ubun2nya masih terbuka, sehingga adanya penumpukan cairan otak dapat dikompensasi dengan melebarnya tulang2 tengkorak. Sedang pada orang dewasa tulang tengkorak tidak mampu lagi melebar.
2. Tujuan
2.1 Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui berbagai hal yang berhubungan dengan hidrosefalus dan dapat merancang berbagai cara untuk mengantisipasi masalah serta dapat melakukan asuhan pada kasus hidrosefalus.
2.2 Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian anamnesa pada bayi dengan hidrosefalus
b. Menentukan diagnosa, masalah serta kebutuhan dari data yang telah dikumpulkan terhadap bayi dengan hidrosefalus
c. Menentukan antisipasi terhadap diagnosa dan masalah potensial yang ditemukan pada bayi dengan hidrosefalus
d. Melakukan tindakan segera berdasarkan data yang telah dikumpulkan terhadap bayi dengan hidrosefalus
e. Merencanakan tindakan yang akan dilakukan kepada bayi berdasarkan interpretasi data yang yang ditentukan
f. Melaksanakan tindakan yang telah direncanakan secara sistematis kepada bai dengan hidrosefalus
g. Melakukan evaluasi terhadap tindakan yang telah dilakukan kepada bayi dengan hidrosefalus



BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP MATERI
1. Pengertian
Hydrocephalus adalah akumulasi cairan cerebrospinal dalam ventrikel serabral,ruang subacarhnoid, atau ruang sub dural (Suriadi dan Yuliani, 2001).
Menurut Mumenthaler (1995)
definisi hydrocephalus yaitu timbul bila ruang cairan serebro spinallis internal atau eksternal melebar
 Hydrocephalus merupakan keadaan patologis otak yang mengakibatkan bertmbahnya cairan serebro spinalis tanpa atau pernah dengan tekanan intracranial yang meninggi sehingga terdapat pelebaran ruangan tempat mengalirnya cairan serebro spinal (Ngastiyah,1997).
2.  Etiologi
Hidrosefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran CSS pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam sistem ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subarackhnoid. akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya. Penyumbatan aliran CSS sering terdapat pada bayi dan anak ialah
  1. Kongenital : disebabkan gangguan perkembangan janin dalam rahim,atau infeksi intrauterine meliputi :
· Stenosis aquaductus sylvi
· Spina bifida dan kranium bifida
· Syndrom Dandy-Walker
· Kista arakhnoid dan anomali pembuluh darah
  1. Didapat : disebabkan oleh infeksi, neoplasma, atau perdarahan
· Infeksi
Akibat infeksi dapat timbul perlekatan meningen. secara patologis terlihat penebalan jaringan piameter dan arakhnoid sekitar sisterna basalis dan daerah lain. penyebab lain infeksi adalah toksoplasmosis.
· Neoplasma
Hidrosefalus oleh obstruksi mekanik yang dapat terjadi di setiap tempat aliran CSS. pada anak yang terbanyak menyebabkan penyumbatan ventrikel IV / akuaduktus sylvii bagian terakhir biasanya suatu glioma yang berasal dari cerebelum, penyumbatan bagian depan ventrikel III disebabkan kraniofaringioma.
· Perdarahan
Perdarahan sebelum dan sesudah lahir dalam otak, dapat menyebabkan fibrosis leptomeningfen terutama pada daerah basal otak, selain penyumbatan yang terjakdi akibat organisasi dari darah itu sendiri.
3. Patofisiologi
Jika terdapat obstruksi pada system ventrikuler atau pada ruangan subarachnoid, ventrikel serebral melebar, menyebabkan permukaan ventrikuler mengkerut dan merobek garis ependymal. White mater dibawahnya akan mengalami atrofi dan tereduksi menjadi pita yang tipis. Pada gray matter terdapat pemeliharaan yang bersifat selektif, sehingga walaupun ventrikel telah mengalami pembesaran gray matter tidak mengalami gangguan. Proses dilatasi itu dapat merupakan proses yang tiba – tiba / akut dan dapat juga selektif tergantung pada kedudukan penyumbatan. Proses akut itu merupakan kasus emergency. Pada bayi dan anak kecil sutura kranialnya melipat dan melebar untuk mengakomodasi peningkatan massa cranial. Jika fontanela anterior tidak tertutup dia tidak akan mengembang dan terasa tegang pada perabaan.Stenosis aquaductal (Penyakit keluarga / keturunan yang terpaut seks) menyebabkan titik pelebaran pada ventrikel lateral dan tengah, pelebaran ini menyebabkan kepala berbentuk khas yaitu penampakan dahi yang menonjol secara dominan (dominan Frontal blow). Syndroma dandy walkker akan terjadi jika terjadi obstruksi pada foramina di luar pada ventrikel IV. Ventrikel ke IV melebar dan fossae posterior menonjol memenuhi sebagian besar ruang dibawah tentorium. Klein dengan type hidrosephalus diatas akan mengalami pembesaran cerebrum yang secara simetris dan wajahnya tampak kecil secara disproporsional.
Pada orang yang lebih tua, sutura cranial telah menutup sehingga membatasi ekspansi masa otak, sebagai akibatnya menujukkan gejala : Kenailkan ICP sebelum ventrikjel cerebral menjadi sangat membesar. Kerusakan dalam absorbsi dan sirkulasi CSF pada hidrosephalus tidak komplit. CSF melebihi kapasitas normal sistim ventrikel tiap 6 – 8 jam dan ketiadaan absorbsi total akan menyebabkan kematian
Pada pelebaran ventrikular menyebabkan robeknya garis ependyma normal yang pada didning rongga memungkinkan kenaikan absorpsi. Jika route kolateral cukup untuk mencegah dilatasi ventrikular lebih lanjut maka akan terjadi keadaan kompensasi.
4. Manifestasi klinis
Manifestasi klinis hydrocephalus dibagi menjadi 2 yaitu : anak dibawah usia 2 tahun, dan anak diatas usia 2 tahun.
a         Hydrocephalus dibawah usia 2 tahun
·      Sebelum usia 2 tahun yang lebih menonjol adalah pembesaran kepala.
·         Ubun-ubun besar melebar, terba tegang/menonjol dan tidak berdenyut.
·         Dahi nampak melebar dan kulit kepala tipis, tegap mengkilap dengan pelebaran vena-vena kulit kepala.
·         Tulang tengkorak tipis dengan sutura masih terbuka lebar cracked pot sign yakni bunyi seperti pot kembang yang retak pada perkusi.
·         Perubahan pada mata.
- bola mata berotasi kebawah olek karena ada tekanan dan penipisan tulang supra orbita. Sclera nampak diatas iris, sehingga iris seakan-akan seperti matahari yang akan terbenam
- strabismus divergens
- nystagmus
- refleks pupil lambat
- atropi N II oleh karena kompensi ventrikel pada chiasma optikum
- papil edema jarang, mungkin oleh sutura yang masih terbuka.
b.  Hydrochepalus pada anak diatas usia 2 tahun.
· Yang lebih menonjol disini ialah gejala-gejala peninggian tekanan intra kranial oleh karena pada usia ini ubun-ubun sudah tertutup
5. Komplikasi
· Peningkatan tekanan intrakranial
· Kerusakan otak
·Infeksi : septikemia, endokarditis, infeksiluka, nefritis, meningitis, ventrikulitis, abses otak.
· Shunt tidak berfungsi dengan baik akibat obstruksi mekanik.
· Hematomi subdural, peritonitis, abses abdomen, perporasi organ dalam rongga abdomen, fistula, hernia, dan ileus.
· Kematian
6. Pemeriksaan diagnostik
· Lingkar kepala pada masa bayi
· CT dan MRI: menunjukkan pembesaran ventrikel
7. Penatalaksanaan
a. Pencegahan
Untuk mencegah timbulnya kelainan genetic perlu dilakukan penyuluhan genetic, penerangan keluarga berencana serta menghindari perkawinan antar keluarga dekat. Proses persalinan/kelahirandiusahakan dalam batas-batas fisiologik untuk menghindari trauma kepala bayi. Tindakan pembedahan Caesar suatu saat lebih dipilih dari pada menanggung resiko cedera kepala bayi sewaktu lahir.
b. Terapi Medikamentosa
Hydrocephalus dewngan progresivitas rendah dan tanpa obstruksi pada umumnya tidak memerlukan tindakan operasi. Dapat diberi asetazolamid dengan dosis 25 – 50 mg/kg BB. Pada keadaan akut dapat diberikan menitol. Diuretika dan kortikosteroid dapat diberikan meskipun hasilnya kurang memuaskan. Pembarian diamox atau furocemide juga dapat diberikan. Tanpa pengobatan “pada kasus didapat” dapat sembuh spontan ± 40 – 50 % kasus.
c. Pembedahan :
Tujuannya untuk memperbaiki tempat produksi LCS dengan tempat absorbsi. Misalnya Cysternostomy pada stenosis aquadustus. Dengan pembedahan juga dapat mengeluarkan LCS kedalam rongga cranial yang disebut :

a. Ventrikulo Peritorial Shunt
b. Ventrikulo Adrial Shunt
Untuk pemasangan shunt yang penting adalajh memberikan pengertian pada keluarga mengenai penyakit dan alat-alat yang harus disiapkan (misalnya : kateter “shunt” obat-obatan darah) yang biasanya membutuhkan biaya besar.
Pemasangan pintasan dilakukan untuk mengalirkan cairan serebrospinal dari ventrikel otak ke atrium kanan atau ke rongga peritoneum yaitu pi8ntasan ventrikuloatrial atau ventrikuloperitonial.
Pintasan terbuat dari bahan bahansilikon khusus, yang tidak menimbulkan raksi radang atau penolakan, sehingga dapat ditinggalkan di dalam yubuh untuk selamanya. Penyulit terjadi pada 40-50%, terutama berupa infeksi, obstruksi, atau dislokasi.
8. Terapi
· Pada dasarnya ada 3 prinsip dalam pengobatan hidrosefalus, yaitu :
a) Mengurangi produksi CSS
b)Mempengaruhi hubungan antara tempat produksi CSS dengan tempat absorbsi
c) Pengeluaran likuor ( CSS ) kedalam organ ekstrakranial.
· Penanganan hidrosefalus juga dapat dibagi menjadi :
1) Penanganan sementara
Terapi konservatif medikamentosa ditujukan untuk membatasi evolusi hidrosefalus melalui upaya mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid atau upaya meningkatkan resorbsinya.
2) Penanganan alternatif ( selain shunting )
Misalnya : pengontrolan kasus yang mengalami intoksikasi vitamin A, reseksi radikal lesi massa yang mengganggu aliran likuor atau perbaikan suatu malformasi. saat ini cara terbaik untuk malakukan perforasi dasar ventrikel dasar ventrikel III adalah dengan teknik bedah endoskopik.
3) Operasi pemasangan “ pintas “ ( shunting )
Operasi pintas bertujuan mambuat saluran baru antara aliran likuor dengan kavitas drainase. pada anak-anak lokasi drainase yang terpilih adalah rongga peritoneum. baisanya cairan ceebrospinalis didrainase dari ventrikel, namun kadang ada hidrosefalus komunikans ada yang didrain rongga subarakhnoid lumbar. Ada 2 hal yang perlu diperhatikan pada periode pasca operasi, yaitu pemeliharaan luka kulit terhadap kontaminasi infeksi dan pemantauan. kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang. infeksi pada shunt meningkatkan resiko akan kerusakan intelektual, lokulasi ventrikel dan bahkan kematian

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
1.1 Anamnese
1) Kaji Riwayat penyakit / keluhan utama
Muntah, gelisah nyeri kepala, lethargi, lelah apatis, penglihatan ganda, perubahan pupil, kontriksi penglihatan perifer.
2) Kaji Riwayat Perkembangan
Kelahiran : prematur. Pada waktu lahir menangis keras atau tidak.
Apakah pernah terjatuh dengan kepala terbentur.
Keluhan sakit perut.
1.2 Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi :
- Anak dapat melihat keatas atau tidak.
- Adanya Pembesaran kepala.
- Dahi menonjol dan mengkilat. Serta pembuluh darah terlihat jelas.
2) Palpasi :
- Ukur lingkar kepala : Kepala semakin membesar.
- Fontanela : fontanela tegang keras dan sedikit tinggi dari permukaan tengkorak.
3) Pemeriksaan Mata :
- Akomodasi.
- Gerakan bola mata.
- Luas lapang pandang
- Konvergensi.
Didapatkan hasil : alis mata dan bulu mata keatas, tidak bisa melihat keatas. Stabismus, nystaqmus, atropi optic.
1.3 Observasi Tanda –tanda vital
Didapatkan data – data sebagai berikut :
- Peningkatan sistole tekanan darah.
- Penurunan nadi / Bradicardia.
- Peningkatan frekwensi pernapasan.
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Potensial terhadap perubahan integritas kulit kepala b/d ketidak mampuan bayi dalam mengerakan kepala akibata peningkatan ukuran dan berat kepala
v Tujuan /kriteria hasil:
ü Tidak terjadi gangguan integritas kulit dengan kriteria :Kulit utuh, bersih dan kering.




INTERVENSI
RASIONAL
1. Kaji kulit kepala setiap 2 jam dan monitor terhadap area yang tertekan
2. Ubah posisi tiap 2 jam dapat dipertimbangkan untuk mengubaha kepala tiap jam.
3. Hindari tidak adanya linen pada tempat tidur
4. Baringkan kepala pada bantal karet busa atau menggunakan tempat tidur air jika mungkin.
5. Berikan nutrisi sesuai kebutuhan.
1. Untuk memantau keadaan integumen kulit secara dini.
2. Untuk meningkatkan sirkulasi kulit
3. Linen dapat menyerap keringat sehingga kulit tetap kering
4. Untuk mengurangi tekanan yang menyebabkan stess mekanik.
5. Jaringan akan mudah nekrosis bila kalori dan protein kurang
b. Perubahan fungsi keluarga b/d situasi krisis ( anak dalam catat fisik )
v Tujuan /kriteria hasil
ü Keluarga menerima keadaan anaknya, mampu menjelaskan keadaan penderita dengan kriteria : Keluarga berpartisipasi dalam merawat anaknya dan secra verbal keluarga dapat mengerti tentang penyakit anaknya.
INTERVENSI
RASIONAL
1. Jelaskan secara rinci tentang kondisi penderita, prosedur, terapi dan prognosanya.
2. Ulangi penjelasan tersebut bila perlu dengan contoh bila keluarga belum mengerti
3. Klarifikasi kesalahan asumsi dan misskonsepsi
4. Berikan kesempatan keluarga untuk bertanya.
1. Pengetahuan dapat mempersiapkan keluarga dalam merawat penderita.
2. Keluarga dapat menerima seluruh informasi agar tidak menimbulkan salah persepsi
3. Untuk menghindari salah persepsi
4. Keluarga dapat mengemukakan perasaannya.
c. Resiko tinggi terjadi cidera b/d peningkatan tekanan intra kranial
v Tujuan /kriteria hasil
ü Tidak terjadi peningkatan TIK dengan kriteria :Tanda vital norma, pola nafas efektif, reflek cahaya positif,tidak tejadi gangguan kesadaran, tidak muntah dan tidak kejang.
INTERVENSI
RASIONAL
  1. Observasi ketat tanda-tanda peningkatan TIK
  2. Tentukan skala coma
  3. Hindari pemasangan infus dikepala
  4. Hindari sedasi
  5. Jangan sekali-kali memijat atau memopa shunt untuk memeriksa fungsinya
  6. Ajari keluarga mengenai tanda-tanda peningkatan TIK
  1. Untuk mengetahui secara dini peningkatan TIK
  2. Penurunan keasadaran menandakakan adanya peningkatan TIK
  3. Mencegah terjadi infeksi sistemik
  4. Karena tingkat kesadaran merupakan indikator peningkatan TIK
  5. Dapat mengakibatan sumbatan sehingga terjdi nyeri kepala karena peningkatan CSS atau obtruksi pada ujung kateter diperitonial
  6. Keluarga dapat berpatisipasi dalam perawatan anak dengan hidrosefalus

Konsep Keluarga Childbearing


1.       Pengertian
Menurut Duvall & Miller (1985) dalam Friedman (2002), keluarga childbearing adalah keluarga yang dimulai dengan kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai bayi berusia 30 bulan. Keluarga childbearing adalah keluarga yang berada pada tahap perkembangan ke II.
Menurut Rodgers dalam Friedman (1998), keluarga childbearing adalah keluarga yang menantikan kelahiran dimulai sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan (2,5 tahun).
Dari beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan secara umum bahwa keluarga childbearing adalah keluarga yang berada pada tahap perkembangan ke II mulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama berlanjut sampai anak pertama berusia 30 bulan.
2.       Tahap Perkembangan Keluarga Childbearing
Masa ini merupakan transisi menjadi orang tua yang akan menimbulkan krisis keluarga. Studi klasik Le Master (1957) dalam Friedman (2002) dari 46 orang tua dinyatakan 17% tidak bermasalah dan selebihnya bermasalah dalam hal suami merasa diabaikan, peningkatan persilisihan dan argumen, interupsi dalam jadwal kontinu dan kehidupan seksual dan sosial terganggu dan menurun.
Menurut Duvall & Miller (1985) dan Charter & McGoldrick (1988) dalam Friedman (2002), tugas perkembangan keluarga tahap ini antara lain adalah :
a.       Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap (mengintregasikan bayi baru ke keluarga)
b.      Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota keluarga
c.       Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan dengan pasangan
d.      Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran orang tua dan kakek nenek dalam pengasuhan
Menurut Spradley tugas perkembangan keluarga childbearing adalah: persiapan untuk bayi, penataan role masing-masing dan tanggung jawab persiapan biaya, adaptasi dengan pola hubungan seksual, pengetahuan tentang kehamilan, persalinan dan menjadi orang tua.
Terhadap perhatian pelayanan kesehatan dimulai dari persiapan menjadi orang tua, antara lain adalah:
a.       Persiapan untuk melahirkan
b.      Transisi menjadi orang tua
c.       Perawatan bayi
d.      Perawatan bayi yang sehat
e.      Mengenali secara dini dan menangani masalah-masalah kesehatan fisik anak dengan tepat
f.        Imunisasi
g.       Pertumbuhan dan perkembangan yang normal
h.      Tindakan untuk keamanan
i.         Keluarga berencana
j.        Interaksi keluarga
k.       Praktik kesehatan yang baik (mis: tidur, nutrisi dan olahraga)

3.       Peran Orang Tua Terhadap Childbearing

Dalam hal ini peran orang tua dapat dimulai selagi kehamilan membesar dan semakin kuat saat bayi dilahirkan. Pada periode awal orang tua harus mengenali hubungan mereka dengan anak. periode berikutnya orang tua dapat mencerminkan suatu waktu untuk bersama-sama membangun kesatuan keluarga, periode waktu berkonsolidasi ini meliputi peran negosiasi (suami istri, ibu-ayah,orang tua-anak,saudara-saudara) untuk menetapkan komitmen . perode yang berlangsung akan membutuhkan waktu.

4.       Komunikasi Orangtua Terhadap Anak

Dalam hal ini ikatan diperkuat melalui penggunaan respons seksual atau kemampuan oleh kedua pasangan dalam melakukan interaksi orangtua-anak. Respon sensual dan kemampuan yang dipakai dalam komunikasi antara orangtua dan anak meliputi:


a.       Sentuhan
Sentuhan atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh orangtua sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi yang baru lahir. Banyak ibu yang ingin meraih anaknya yang baru lahir dan tali pusatnya dipotong, mereka mengangkat bayi ke dada, merangkulnya kedalam pelukan. Begitu anak dekat dengan ibunya maka anak akan mulai proses ekspoli
b.      Kontak Mata
c.       Suara
d.      Aroma

5.       Tugas Perkembangan Childbearing

a.       Adaptasi perubahan anggota keluarga (peran, interaksi,seksual dan kegiatan)
b.      Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan
c.       Membagi peran dan tanggung jawab
d.      Bimbingan orang tua tentang pertumbuhan dan perkembangan anak
e.      Konseling KB post partum 6 minggu
f.        Menata ruang untuk anak
g.       Biaya / dana childbearing
h.      Memfasilitasi role learning anggota keluarga

6.       Masalah Yang Sering Muncul Pada Keluarga Childbearing

a.       Hubungan seksual dan sosial terganggu
Hubungan seksual antar pasangan umumnya menurun selama masa kehamilan dan selama enam minggu periode pascapartum. Kesulitan seksual selama periode pascapartum biasa terjadi, muncul akibat faktor peran baru yang dijalankan oleh Ibu, akibat kelelahan dan merasa kehilangan ketertarikan seksual sementara suami merasa “ditinggalkan atau disingkirkan”.
b.      Suami merasa diabaikan
Sebagian besar ayah secara tradisonal tidak diikutsertakan dalam proses perinatal sehingga tentu saja hal ini membuat pria terlambat dalam melaksanakan perubahan peran penting sehingga menghindari keterlibatan emosional mereka.
c.       Peningkatan perselisihan
Pola komunikasi pernikahan yang baru, berkembang dengan hadirnya seorang anak, pasangan suami istri dalam berhubungan satu sama lain memperlakukan pasangannya sebagai pasangan hidup dan sebagai orang tua. Pola transaksional pasangan terbukti berubah secara drastis. Feldman (1961) mengobservasi bahwa orang tua bayi sedikit berbicara satu sama lain dan sedikit memiliki kesenangan, kurang mnestimulsi percakapan dan menurunnya kualitas interaksi pernikahan mereka. Beberapa orang tua merasa kewalahan dengan bertambahnya tanggung jawab, terutama pada keluarga yang suami dan istrinya bekeja penuh waktu.